Minggu, 12 Februari 2017

CATATAN DARI MELAKA





Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka.
 


Oh ya, dalam sejarah yang saya baca Melaka ini didirikan pada tahun 1405 oleh Parameshwara yaitu Pangeran Hindu dari Kerajaan Sriwijaya. Beliau melarikan diri ke Melaka karena serbuan dari Majapahit. Untuk mengenang beliau, namanya diabadikan jadi nama sebuah jalan di Melaka.




Dengan menaiki bus nomor 17 dan tiket seharga 1,2 RM bus pun melaju ke kawasan tersebut. Perjalanannya memakan waktu sekitar 15 menit. Karena kebetulan saya ke sana pas weekend, para turis baik dalam dan luar negara ini ‘tumpah ruah’ memenuhi jalan. 

Kami turun tepat di depan bangunan merah. Mudah sekali mengenalinya karena di sana benar-benar spot objek wisata dan berada di muara sungai. Rata-rata kendaraan di sini tertib berlalu lintas, tidak mau menyerobot lawan dan lebih mendahulukan pejalan kaki. 

 
Masjid Kampung Kling, San Duo Temple dan Sri Poyatha Moorthi Temple 

Saya mulai menikmati pemandangan yang ada di sini. Mulai dari Christ Church Melaka yang dibangun tahun 1753, air mancur, taman penuh bunga dan sungai yang mengalir di bawahnya. Kalau pengen melihat kumpulan burung merpati, kita bisa jalan sedikit ke Little India yang tidak jauh dari sini.



Ohya jangan lupa minta peta wisata Melaka di tourist information yang terletak di bawah surau yang berada di depan Stadhuys. Kalau sudah habis, kita juga bisa mencari di hotel atau hostel tempat kita menginap. Karena dengan peta tersebut kita bisa menjelajah kawasan tersebut dengan lebih jelas. Sore menjelang malam, kamipun siap-siap mencari peninapan. Biaya penginapan mulai dari 20 RM sampai ratusan ringgit ada di sana. Saya mendapat penginapan di Cheng Ho Guest House yang terletak berseberangan dengan Masjid Kampung Kling yang dibangun tahun 1748 oleh Pedagang India dan Sri Poyatha Moorthi Temple yang dibangun 1781. Biaya penginapannya pun murah seharga 20 RM.

Malam harinya, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Kebetulan ada pasar malam di Jongker Walk yang menyediakan berbagai kebutuhan dan cendra mata. Pasar ini memanjang sekitar 2 km di Jalan Hang Jebat. Semua pelancong seakan tak mau ketinggalan untuk menelusuri jalan ini, ramai sekali. Sayangnya mencari makanan halal susah. Terpaksa saya mencari ide jitu, dengan mengenali penjual dagangan yang berjibab.Itu pun tak seberapa. 

Esok hari, kami melakukan penjelajahan ke sisi lain Negeri Melaka. Rata-rata semua bangunan bersejarahnya dijadikan museum. Mulai dari Museum Pengangkutan, Museum Seni Bina, Museum Islam Melaka, Museum UMNO, Museum Rakyat, Museum Setem, Museum Dunia Melayu, Museum Sastra, Museum Sejarah, Museum Tyt, Museum Maritim, Museum Baba Nyonya dan Museum Pemerintahan Demokrasi. Selain itu ada juga Gereja St. Paul yang terletak di atas bukit, Replika Istana Kesultanan Melaka, dan Port de Santiago.


Kalau mau menyusuri Sungai Melaka bisa menaiki boat ride seharga 30 RM dewasa dan 15 RM anak-anak. Satu lagi atraksi yang menarik yaitu Menara Taming Sari. Kita bisa melihat Kota Melaka dari ketinggian 110 meter. Untuk menaiki menara ini cukup membayar 15 RM. Pukul 11 kami siap-siap kembali ke penginapan untuk check out karena waktu check out sendiri pukul 12. Kemudian kami menaiki bus Panorama Malaka 17 yang berhenti di bangunan merah. Harga tiket bus dari bangunan merah ke Malaka Sentral 2 RM. Aneh, kalau berangkat ke bangunan merah dari Malaka Sentral cuma 1,2 RM, kalau baliknya malah lebih mahal. Mungkin mereka berat melepas kepergian kami, hehe…

Perjalanan wisata ke Melaka ini cukup berkesan bagi saya karena objek-objek wisata yang ditawarkan saling berdekatan dan tentunya dengan harga yang cukup murah. 


Salam Traveling!


Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anwarsdk/catatan-dari-bandar-bersejarah-melaka_551c1a78a33311a12bb65ab2Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka.

Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anwarsdk/catatan-dari-bandar-bersejarah-melaka_551c1a78a33311a12bb65ab2
Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anwarsdk/catatan-dari-bandar-bersejarah-melaka_551c1a78a33311a12bb65ab2
Hari menunjukkan pukul 15.30 waktu setempat. Saya dan seorang teman bergegas turun dari bus yang mengantar kami ke Melaka Sentral. Perjalanan kami selanjutnya menuju Bangunan Merah atau yang dikenal juga dengan nama Stadthuys. Di kawasan ini banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat. Oleh karena itu, Melaka dikenal dengan Bandar Bersejarah Melaka. Oh ya, dalam sejarah yang saya baca Melaka ini didirikan pada tahun 1405 oleh Parameshwara yaitu Pangeran Hindu dari Kerajaan Sriwijaya. Beliau melarikan diri ke Melaka karena serbuan dari Majapahit. Untuk mengenang beliau, namanya diabadikan jadi nama sebuah jalan di Melaka. Gerbang Melaka dan Stadthuys Dengan menaiki bus nomor 17 dan tiket seharga 1,2 RM bus pun melaju ke kawasan tersebut. Perjalanannya memakan waktu sekitar 15 menit. Karena kebetulan saya ke sana pas weekend, para turis baik dalam dan luar negara ini ‘tumpah ruah’ memenuhi jalan. Air Mancur dan Taman Bunga Kami turun tepat di depan bangunan merah. Mudah sekali mengenalinya karena di sana benar-benar spot objek wisata dan berada di muara sungai. Rata-rata kendaraan di sini tertib berlalu lintas, tidak mau menyerobot lawan dan lebih mendahulukan pejalan kaki. Masjid Kampung Kling, San Duo Temple dan Sri Poyatha Moorthi Temple Saya mulai menikmati pemandangan yang ada di sini. Mulai dari Christ Church Melaka yang dibagun tahun 1753, air mancur, taman penuh bunga dan sungai yang mengalir di bawahnya. Kalau pengen melihat kumpulan burung merpati, kita bisa jalan sedikit ke Little India yang tidak jauh dari sini. Kumpulan Burung Merpati dan Sungai Melaka Ohya jangan lupa minta peta wisata Melaka di tourist information yang terletak di bawah surau yang berada di depan Stadhuys. Kalau sudah habis, kita juga bisa mencari di hotel atau hostel tempat kita menginap. Karena dengan peta tersebut kita bisa menjelajah kawasan tersebut dengan lebih jelas. Sore menjelang malam, kamipun siap-siap mencari peninapan. Biaya penginapan mulai dari 20 RM sampai ratusan ringgit ada di sana. Saya mendapat penginapan di Cheng Ho Guest House yang terletak berseberangan dengan Masjid Kampung Kling yang dibangun tahun 1748 oleh Pedagang India dan Sri Poyatha Moorthi Temple yang dibangun 1781. Biaya penginapannya pun murah seharga 20 RM. Menyusuri Sungai Melaka dan Jalan di Melaka Malam harinya, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Kebetulan ada pasar malam di Jongker Walk yang menyediakan berbagai kebutuhan dan cendra mata. Pasar ini memanjang sekitar 2 km di Jalan Hang Jebat. Semua pelancong seakan tak mau ketinggalan untuk menelusuri jalan ini, ramai sekali. Sayangnya mencari makanan halal susah. Terpaksa saya mencari ide jitu, dengan mengenali penjual dagangan yang berjibab.Itu pun tak seberapa. Jongker Walk Esok hari, kami melakukan penjelajahan ke sisi lain Negeri Melaka. Rata-rata semua bangunan bersejarahnya dijadikan museum. Mulai dari Museum Pengangkutan, Museum Seni Bina, Museum Islam Melaka, Museum UMNO, Museum Rakyat, Museum Setem, Museum Dunia Melayu, Museum Sastra, Museum Sejarah, Museum Tyt, Museum Maritim, Museum Baba Nyonya dan Museum Pemerintahan Demokrasi. Selain itu ada juga Gereja St. Paul yang terletak di atas bukit, Replika Istana Kesultanan Melaka, dan Port de Santiago. Beberapa Museum Kalau mau menyusuri Sungai Melaka bisa menaiki boat ride seharga 30 RM dewasa dan 15 RM anak-anak. Satu lagi atraksi yang menarik yaitu Menara Taming Sari. Kita bisa melihat Kota Melaka dari ketinggian 110 meter. Untuk menaiki menara ini cukup membayar 15 RM. Pukul 11 kami siap-siap kembali ke penginapan untuk check out karena waktu check out sendiri pukul 12. Kemudian kami menaiki bus Panorama Malaka 17 yang berhenti di bangunan merah. Harga tiket bus dari bangunan merah ke Malaka Sentral 2 RM. Aneh, kalau berangkat ke bangunan merah dari Malaka Sentral cuma 1,2 RM, kalau baliknya malah lebih mahal. Mungkin mereka beratmelepas kepergian kami, hehe… Kuburan Bangsawan Eropa berlatar Taming Sari, Gereja St. Paul, Replika Istana Kesultan Melaka dan Port de Santiago Perjalanan wisata ke Melaka ini cukup berkesan bagi saya karena objek-objek wisata yang ditawarkan saling berdekatan dan tentunya dengan harga yang cukup murah. Salam Traveling!

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/anwarsdk/catatan-dari-bandar-bersejarah-melaka_551c1a78a33311a12bb65ab2