Perjalanan memakan waktu 1 jam-an. Dalam bus, saya mendengar percakapan seorang anak remaja dengan turis yang berasal dari Jepang. Tampaknya sijepang sangat senang dapat kawan bicara. Ketika si anak remaja turun, dia memberi salam dengan kata"Ja ne:" yang artinya samai jumpa lagi, sijepang membalas salam perpisahan dengan akhir kata "kawaiii" yang artinya imut sekali.

Komplek candi ini sangat luas sama seperti di Candi Borobudur. Cuaca yang sedikit panas tak membuat saya dan istri mengundurkan langkah ke dalam candi. Tepatnya ketiga candi utama. Di dinding candi utama terdapat banyak relief tentang kisah Rama dan Shinta, Dewa Brahma, Dewa Siwa, Dewa Wisnu, dll. Dalam Candi Siwa saya melihat sebuah patung besar, seoranng gadis yang menginjak seekor sapi dan mempunyai banyak tangan. Dialah Arca Durga atau yang dikenal Roro Jonggrang.
Masih teringat ketika Roro Jongrang ingin dilamar oleh salah seorang pangerang bernama Bandung
Bondowoso dan dia meminta syarat untuk membuat seribu candi dalam satu malam. Sebenarnya Putri Roro tidak mau menikah dengannya. Ketika candi dibuat dan pengerjaannya sangat cepat, membuat putri mulai gelisah. Dia menyuruh semua dayang-dayang dan pembantunya untuk menumbuk lesung dan membakar jerami agar membuat api sebesar mungkin. Seketika itulah para jin suruhan pangeran mulai ketakutan karena mereka menyangka pagi telah tiba. Mereka lari tunggang langgang padahal candi yang dibuat baru 999 candi. Hal ini membuat pengeran murka. Akhirnya Putri Roro Jonggrang dikutuk menjadi patung dan genaplah candi tersebut menjadi seribu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar